Senin, 30 Juli 2012

Mulai 1 Agustus Kendaraan Dinas Pemerintah Dilarang Konsumsi BBM Bersubsidi

Dinkominfo – Sosialisasi masalah pengendalian penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terus dilakukan Pemerintah Kota Surabaya. Pada hari Kamis tanggal 27 Juli 2012 sosialisasi disampaikan langsung oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dihadapan jajaran BUMN, BUMD dan kepala SKPD.

Di dalam paparannya, Risma menyebutkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Surabaya diprediksi akan habis pada bulan Oktober 2012 mendatang. Sebagaimana tercantum dalam  Permen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) no 12/2012 Tentang Pengendalian Penggunaan BBM, bahwa per tanggal 1 Agustus 2012 semua kendaraan dinas instansi pemerintah, meliputi pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD wajib menggunakan BBM non subsidi.

“Tak hanya itu, mobil barang yang difungsikan untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan dilarang menggunakan solar bersubsidi terhitung mulai 1 September 2012,” ujarnya. Kebijakan ini, lanjut Risma, perlu diperhatikan dan dijalankan oleh semua pihak agar subsidi yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah dapat diberikan tepat sasaran.

“Jika kita yang tidak berhak menikmati subsidi BBM tetapi ikut-ikutan menggunakan, maka kasian yang seharusnya menerima. Jika subsidi yang diberikan itu habis sebelum waktunya, maka saya khawatir akan memicu kepanikan pada masyarakat. Mengingat peran dari BBM cukup vital,” paparnya.

Kepanikan yang dimaksud oleh Risma adalah adanya kenaikan harga bahan pokok yang dirasakan membebani masyarakat. “Saya tidak ingin hal tersebut terjadi. Oleh karena itu saya menghimbau kepada seluruh SKPD dan BUMD untuk kendaraan operasional kantor dan pribadi tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi. Masa bisa beli mobil mewah tetapi bahan bakarnya bersubsidi. Ini kan kelewatan,” tukasnya.

Dalam waktu dekat Risma juga akan mensosialisasikan kebijakan ini kepada SPBU yang ada di kota Surabaya. “Saya akan menjadwalkan untuk bertemu dengan pengusaha dan peneglola SPBU, agar kebijakan ini juga dapat dipatuhi. Saya rasa jika kebijakan ini tidak dipatuhi dan mungkin ada SPBU yang melanggar dengan memberikan BBM bersubsidi kepada mobil mewah atau mobil dinas, maka saya tidak akan segan-segan mencabut ijinnya,” tegasnya.

Menurut Risma, kebijakan ini bukan untuk menguntungkan pihak tertentu tetapi lebih mengutamakan kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai informasi, pada tahun 2012 Kota Surabaya mendapatkan kuota subsidi premium 441.366 kilo liter. Tingkat konsumsi warga Surabaya telah mencapai 127, 49 % dari kuota per 31 Mei 2012, atau bisa dikatakan telah menghabiskan 233.689 kilo liter dari kuota yang seharusnya hanya 183.300 kilo liter.

Sementara untuk jenis BBM solar, Surabaya mendapat jatah 203.836 sepanjang tahun ini. Hingga Mei 2012, batasan konsumsi solar seharusnya 84.653 kilo liter, namun tingkat konsumsi telah menyentuh angka 93.074 kilo liter atau mencapai 109,95 % dari kuota yang telah ditetapkan.(sumber : www.surabaya.go.id)

Minggu, 29 Juli 2012

Walikota Launching Eco School 2012

Dinkominfo – Kebersihan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Untuk menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan, Pemerintah kota Surabaya bersama dengan Tunas Hjau kembali menggelar Eco School 2012. Program yang bergerak di bidang lingkungan ini dilauncing Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Sabtu (28/7) di Graha Sawunggaling, lantai 6 Kantor Pemerintah Kota Surabaya.
Melalui pengeyenggaraan Eco School ini, diharapkan sekolah – sekolah di Surabaya dapat melaksanakan program lingkungan hidup melalui cara-cara yang edukatif, atraktif dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Melakukan pemilahan sampah yang ditindaklanjuti dengan upaya pemngomposan sampah organik dan pemanfaatan sampah kertas.
Selain itu, diharapkan pula pihak sekolah juga dapat memiliki program unggulan lingkungan hidup. Dengan memanfaatkan lahan kosong di sekolah atau disekitarnya dengan pepohonan atau tanaman dalam pot untuk menjadikan hutan sekolah. Serta dapat menerapkan pola hidup ekonomi hijau dalam pelaksanaan program lingkungan hidup.
Untuk tahun ini, peserta yang akan mengikuti program Eco School sejumlag 160 sekolah yang terdiri dari SD, SMP dan SMA negeri dan swasta di Surabaya. Adapun berbagai program pendukung telah disiapkan panitia, meliputi lomba Yel – Yel Lingkungan, Eco Student Of The Week, Eco Teacher Of The Week, Eco Headmaster Of The Week, The Best Park Award, The Best Composting Award, The Best School Forest Award, The Best Green House Award dan masih banyak lagi.
Menurut rencana selama bulan Agustus dilakukan pembinaan awal, pendataan sekolah . Workshop lingkungan hidup tahan I akan digelar di masing-masing sekolah pada 1 hingga 10 September diikuti 640 siswa, 160 guru dan 160 karyawan sekolah. Sedangkan untuk tahap ke II akan digelar di Kantor Bappeko Surabaya. Dan puncak penganugerahan akan dilaksanakan pada 15 Desember 2012 di Graha Sawunggaling, Kantor Pemerintah Kota Surabaya.(sumber : www.surabaya.go.id)

Rabu, 25 Juli 2012

Siaga HIV/AIDS....di Surabaya

 

Siaga HIV/AIDS... Permintaan kewaspadaan terhadap penyakit tersebut disampaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya karena jumlah penderita HIV/AIDS di Surabaya terus meningkat. Terhitung sejak 2007 sampai 2011 tercatat 5.576 kasus HIV/AIDS. Jumlah itu belum termasuk jumlah penderita pada akhir Juni 2012 yang sudah mencapai 127 orang.
Selain itu, jumlah itu merupakan korban yang terdeteksi Dinas Kesehetan (Dinkes) Pemkot Surabaya, sementara korban yang belum terdata atau belum diketahui diperkirakan mencapai dua kali lipatnya.
Kepala Dinkes Pemkot Surabaya, Esty Martiana Rachmie menuturkan penderita HIV/AIDS di Surabaya seperti fenomena gunung es. Artinya yang terlihat hanya sebagaian saja, sementara jumlah yang sebenarnya bisa lebih banyak lagi. “Ini jadi peringatan dini bagi kita semua untuk selalu waspada,” ujar Esty Martian, Kamis (25/7).
Jumlah penderita, katanya, setiap tahun mengalami peningkatan. Lihat saja sejak 2007 jumlah penderita HIV/AIDS ada 214 orang. Jumlah itu meningkat karena pada 2008 mencapai 262 orang. Kemudian apda 2009 jumlahnya mencapai 257 orang. Pada 2010 tercatat 222 orang. Pada 2011 tercatat 175 penderita dan pada Juni 2012 ini sudah tercatat 127 penderita.
“Kalau pun ada penurunan itu biasanya data dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau pihak ketiga lainnya sudah tak aktif lagi dalam memantau masalah ini. Jadi sebenarnya setiap tahun selalu saja ada peningkatan untuk penderita HIV/AIDS,” ungkapnya.
Dari semua data itu, katanya, sebagian besar diperoleh dari lokalisasi yang tersebar di Kota Pahlawan. Di antarnya, lokalisasi Dolly, Jarak, Dupak Bangunsasri, Moroseneng dan Sememi. Sementara data untuk penderita dari Pekerja Seks Komersial (PSK) yang biasanya mangkal di hotel, kos, maupun on call belum bisa diperoleh.
Selain itu, katanya, tak semua PSK mau dites. Hal itu karena PSK yang ada di Surabaya, seperti di Dolly, Dupak Bangunsari, Sememi dan Moroseneng yang jumlahnya sekitar 1.200 PSK, hanya 40% saja yang mau memeriksakan kesehatannya. Sisanya mereka memilih untuk lari ketika ada pemeriksaan. “Selain itu, kami juga tak bisa memaksa PSK untuk melakukan tes kesehatannya,” terangnya.
Yang lebih memprihatinkan, dari keseluruhan temuan kasus HIV/AIDS di Surabaya, 62,7 persen di antaranya tergolong usia produktif. Yakni, usianya antara 20-39 tahun. Belum lagi efeknya terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya. “Ini jelas situasi yang mengkhawatirkan, karena dampaknya sangat luas yang mengakibatkan kualitas hidup menurun, produktivitas kerja terganggu, dan lain sebagainya,” kata Esty.
Menurutnya, masalah ini atau penularan HIV/AIDS di Surabaya sudah menjadi persoalan serius yang membutuhkan pola penanganan yang tepat. Karena itu, Pemkot Surabaya di samping mengalokasikan budget khusus untuk pencegahan dan penanganan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) juga intensif menggelar forum komunikasi penanggulan penyebaran HIV/AIDS.
Penyebab utama penularan virus paling mematikan ini karena  hubungan seks bebas. Sementara penyebab kedua karena terlibat dalam pengunaan narkoba. “Sekarang ini sudah terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu didominasi pengguna narkoba, kini hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIV/AIDS,” katanya.
Pemkot sendiri, katanya, bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mengajak semua pihak untuk berperan aktif, termasuk aparat kepolisian, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Selama ini penularan HIV/AIDS menjadi persoalan serius yang membutuhkan pola penanganan yang tepat. Untuk itu, Pemkot Surabaya di samping mengalokasikan budget khusus untuk pencegahan dan penanganan ODHA.
Pada 30-31 Mei lalu, lanjutnya, telah dilaksanakan pelatihan penanggulangan HIV/AIDS bagi staf Kepolisian Sektor se-Surabaya guna mengintegrasikan upaya menghadapi pengguna narkoba yang mempunyai permasalahan hukum terkait dengan kejahatan narkoba maupun tindak pidana lainnya.
“Diharapkan melalui forum ini, tercipta kesamaan persepsi dan komitmen pihak kepolisian terhadap upaya penanggulangan HIV/AIDS. Juga adanya dukungan akses layanan kesehatan bagi ODHA akibat penggunaan alat suntik (penasun) yang berada di tahanan Lapas maupun tahanan kepolisian,” jelas Esty.
Sementara untuk penyebaran virus HIV/AIDS di kalangan muda membuat keprihatinan tersendiri bagi warga Surabaya. Pergaulan bebas dan kemudahan kelompok muda dalam memperoleh narkoba maupun seks bebas menjadi akar persoalan.
Keprihatinan itu membuat Pemkot melakukan upaya jemput bola dalam memotong penyebaran virus paling menakutkan di dunia. Saat ini, Pemkot mendesak adanya muatan lokal (mulok) HIV/AIDS pada pelajaran di sekolah.
“Sebenarnya Pemkot sudah menyiapkan Perda HIV-AIDS. Di dalamnya ada aturan yang menangkal penyebaran virus di tingkatan kelompok muda. Tapi Perdanya memang belum disahkan sampai sekarang. Ini masih disusun,” ujar Esty.
Ia melanjutkan, meskipun Perda belum disetujui, pihaknya tetap bersinergi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) untuk memasukkan mulok. Artinya, mulok yang dimasukan Dinkes ke tiap sekolah bukan diajarkan sebagai ekstrakurikuler, tapi sudah masuk ke tiap pelajaran. “Jadi nanti di semua pelajaran ada mulok yang menjelaskan tentang HIV/AIDS. Pelajaran IPS ada, IPA ada, bahasa juga ada,” tegasnya.
Dengan adanya mulok, katanya, siswa di sekolah diberikan pengetahuan yang luas tentang HIV-AIDS. Termasuk di dalamnya tentang penyebaran yang bisa dihindari. “Kalau mulok tak perlu menunggu Perda, jadi bisa dijalankan dengan segera,” jelasnya.
Esty juga membeberkan, Pemkot juga menjalin kerjasama dengan LSM di Surabaya yang fokus pada penanganan korban virus HIV/AIDS. Ada pendamping yang akan membantu korban untuk meningkatkan kualitas hidupnya. “Ini masih terus berjalan, kalau ada korban atau informasi kami langsung turun dan menemui korban,” katanya.
Ketua Aisyiyah Jatim itu menambahkan, untuk tempat berobat bagi korban HIV/AIDS hanya ada di RSU dr Soetomo. Sampai saat ini puskesmas yang ada di tiap kecamatan belum bisa memberikan layanan pada para korban.

Mesin Daur Ulang, Velg dan Ban Impor

SURABAYA - Keberhasilan empat siswa SMK membuat motor gede (moge) mendapat antusias dari seluruh jajaran Dinas Pendidikan Jawa Timur. Sayangnya, moge buatan tiga siswa dari SMK PGRI 2 Ponorogo dan 1 siswa SMK Panti Pamardi Siwi Ngawi itu masih harus daur ulang mesin, dan velg serta bannya pun harus impor, yaitu pesan ke distributor Harley Davidson, dengan biaya yang tidak murah.
Akibatnya, untuk dua ban ini saja menelan biaya Rp 2 juta dan untuk dua velg bisa ditekan karena membeli bekas seharga Rp 3 juta. “Kalau membeli velg yang masih baru dan berkualitas tinggi bisa senilai Rp 24 juta sendiri,” terang Agus Riyanto, instruktur siswa magang di Unit Pelaksana Teknis  Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (UPTP3K), Selasa (24/7).
Untuk mesinnya, keempat siswa dibantu dengan instruktur merakit moge dari mesin dua silinder yang diambil dari mesin mobil Honda Life tahun 70-an. Mesin yang semula berkapasitas 350 cc dimodifikasi menjadi 500 cc. Untuk bahan bakarnya irit, imbuh Agus, karena satu liter bensin bisa dipergunakan sepanjang 25 kilometer. “Kita gunakan mesin yang irit tetapi bisa digunakan dengan kecepatan tinggi pula. Kecepatan bisa sampai 100 kilometer per jam,” imbuhnya.
Untuk bodi, mereka memoles dengan warna dasar merah dan hiasan cat semprot bercorak lidah api. Yang menarik, mereka menciptakan karburator yang irit dan dicocokkan dengan accu yang cukup besar hingga 20 ampere. Untuk melengkapi kesan gede dari sepeda tersebut, diberikan suara keras yang berasal dari karburator dengan diberikan saringan hasil buatan mereka sendiri.
“Ketika digas, suara gemelegarnya bisa dirasakan hingga jarak jauh. Itu yang membuat kendaraan ini khas mogenya,” ujarnya seraya menambahkan total biayanya Rp 20 juta.
Kepala Dispendik Jatim, Harun, menilai hasil karya dari para siswa yang magang di UPTP3K ini tak untuk dilelang atau diperjualbelikan. Selama ini memang, Dispendik Jatim selalu mendukung dan memotivasi agar para pelajar ini lebih bersemangat dalam membuat karya. Sehingga, untuk ketentuan penyelenggaraan magang ini semata-mata untuk belajar dan tidak untuk diproduksikan. “Tidaklah, ini kan hasil karya bukan hasil kerja. Jadi tidak akan dijual,” tandasnya.(sumber : www.surabayapost.co.id)

Hebat.....Mobil Bahan Bakar Angin. Modifikasi SMKN 5

Mantap...hebat...atau apalah namanya yang menyatakan bahwa sesuatu yang diciptakan para murid SMK di bidang otomotif membuat nama Kota Surabaya menjadi perbincangan diantara industri otomotif lokal. Kali ini giliran SMKN 5 Surabaya yang memiliki konsep tentang pengembangan aneka mobil prototipe.

Selama ini bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan bermotor khususnya mobil berbahan bakar fosil, tetapi pada konsep yang dirancang murid SMKN 5 ini menjadi berbahan bakar angin. Hal ini merupakan langkah yang menjadi impian dan akan segera diwujudkan. Rencananya mereka akan membuat prototipe mobil yang digerakan menggunakan tekanan udara atau biasa disebut pneumatic.

Alat yang digunakan untuk mendukung mobil tersebut ialah dua tabung kompresor yang memiliki warna oranye terang akan dipasang pada bagian belakang mobil. Dua tabung itu dipergunakan untuk menyimpan udara bertekanan yang akan menggerakkan silinder pneumatic. Kemudian silinder tersebut dihubungkan dengan mesin sepeda motor yang sudah dimodifikasi dan mekanisme itu dapat membuat mobil prototipe bisa berjalan sekitar 20-25 km per jam.

Guru SMKN 5 Surabaya dan Kepala Program Keahlian Teknik Instalasi Listrik, C. Tjatur Agus Wahjuhono mengungkapkan bahwa semua ini masih tahap pertama. Meskipun mobil yang akan kami produksi memakai prinsip sederhana, tetapi ada beberapa detail yang tak bisa dengan mudah diketahui banyak orang. Salah satunya penyetelan silinder pneumatic, dibutuhkannya perhitungan khusus agar silinder itu bisa bergerak dengan konstan sehingga bisa menggerakkan piston.

“Butuh beberapa kali percobaan untuk menghitung dengan pas dua buah sensor elektrik yang diletakkan pada silinder itu. Saya memilih udara sebagai bahan pengembangan karena udara tidak perlu beli, kalau kita memakai bahan bakar minyak biaya yang dikeluarkan cukup besar. Keunggulan lain dari bahan ini yakni secara otomatis mobil tak akan menimbulkan polusi udara. Manfaat lain, suara yang ditimbulkan nyaris tidak ada. Bahkan ini bisa sangat menghemat oli nesin karena tidak ada pembakaran sama sekali dalam mesin”, sambungnya.

Salah satu murid SMKN 5 Surabaya, Adi Prastya menuturkan serunya berburu komponen untuk membuat Pneucar ini. Kami harus mencari aneka komponen itu dari pasar loak. Mulai dari komponen vital hingga yang dipergunakan untuk aksesori. Mengapa kami menggunakan komponen dari bahan bekas ? Karena dana yang kami miliki tidak memungkinkan kami menggunakan komponen baru.(sumber : www.surabaya.go.id)